Anda disini : TOP >> Hizbiyah >> Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1)
Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1)

Menjawab Kritik Abu Umar Basyir

   Ketika membaca tulisan Abu Salma Al Atsari berjudul űerisai Penuntut Ilmu dari Syubhat Ath Thalibi?, bagian ke-4 (terakhir), terselip nukilan dari sebuah buku berjudul, Ada Apa Dengan Salafi? , karya seorang ustadz Salafi, Ustadz Abu Umar Basyir Al Maidani. Dia melontarkan sekian kritik, khususnya berkaitan dengan pemakaian istilah Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Dalam kesempatan ini saya bermaksud menjawab kritik yang disampaikan Abu Umar Basyir.
   Saya mengetahui Abu Umar Basyir dari tulisan-tulisannya, khususnya rubrik tanya-jawab fiqih di majalah Nikah dan El Fata. Di kedua majalah itu beliau duduk sebagai seorang Staf Ahli, bersama ustadz Salafi lain. Saya sendiri sempat membaca buku Ada Apa Dengan Salafi?, namun hanya sekilas saja. Waktu itu ketika bersilaturahim ke tempat kenalan baik, saya ditunjukkan buku tersebut, tapi karena hanya sekedar bertamu, tidak sempat membaca lebih jauh. Dari seorang rekan, saya juga menerima SMS tentang buku tersebut dan apa yang dia singgung tentang buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (DSDB). Tetapi setelah membaca tulisan Abu Salma, saya baru memahami bahwa disana ada kritik-kritik tertentu.
   Disini saya akan menampilkan nukilan yang diambil oleh Abu Salma dari buku Ada Apa Dengan Salafi?, kemudian memberikan perbandingan opini secukupnya.

Pernyataan Abu Umar Basyir
   Berikut ini perkataan Abu Umar Basyir sebagaimana dinukil Abu Salma dalam tulisan berjudul Perisai Penuntut Ilmu dari Syubhat Ath Thalibi, bagian ke-4:
 
ţaru-baru ini muncul sebuah buku, yang tampaknya ingin melakukan koreksi total terhadap dakwah Salafiyah di Indonesia. Si penyusun buku itu menyayangkan sikap keras banyak kalangan dai Salafiyin dalam berdakwah? Sayangnya, buku itu terjebak dalam penggunaan istilah-istilah yang justru mengaburkan substansi Salafiyah dan Salafiyin.

Boleh saja si penyusun ingin bersikap tengah, dengan tidak menyudutkan semua fihak. Tapi justru membuatnya menjadi plin-plan. Di satu waktu ia seperti mengecam sebagian Salafiyin radikal sebagai telah keluar dari Ahlus Sunnah, telah pantas disebut hizbiyah. Tapi sebelumnya penyusun enggan mengeluarkan setiap fihak yang bertikai di kalangan mereka yang mengaku sebagai Salafiyin, bahwa kelompok si Fulan misalnya, telah keluar dari Salafiyah, telah menyimpang dan menyempal menjadi hizbiyah.    

Di awal buku sendiri, penyusun menukil tanggapan seorang dai terhadap syaikh Rabi? dengan bahasa yang kasar. Di luar apakah penyusun setuju ataukah tidak setuju dengan pernyataan kasar itu terhadap Syaikh Rabi?, meletakkan pernyataan itu di awal buku sudah menunjukkan sebuah kekeliruan fatal. Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi?. Beliau adalah salah satu dari ulama Ahlussunnah yang cukup dihormati oleh para penuntut ilmu.

Kemudian, meski dengan tujuan hanya untuk mengidentifikasi, penyusun nekat membagi kalangan Salafiyin di tanah air menjadi Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Sekali lagi, meski dengan tujuan identifikasi belaka. Tapi Salafiyah tidak boleh dikotak-kotakkan. Dakwah Salafiyah adalah satu. Kalau ada pihak-pihak yang mengaku sebagai Salafiyin, namun memiliki banyak pemikiran dan pemahaman yang menyimpang dari Salafiyah, tidak pantas disebut sebagai Salafiyin. Minimal akan dikatakan kepada mereka adalah Salafiyin yang keluar dari Salafiyah pada beberapa poin tertentu, dalam mumalah atau pemikiran tertentu. Dalam aqidah mereka Salafi, namun dalam metodologi dakwah mereka cenderung ke pemikiran ini dan itu.

Sebenarnya ada beberapa hal yang rancu dalam buku tersebut. Namun penulis (Ustadz Abu Umar) tidak berniat mengupas dan menjabarkannya, karena itu bukan kepentingan dalam penulisan buku ini? Namun disini penulis hanya memberi catatan bahwa istilah Salafi Yamani-Salafi Haraki, akan sangat mungkin digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab untuk semakin menyudutkan kalangan Salafiyin. Bila kedua istilah itu sempat memasyarakat, terutama di kalangan awam, akan lebih riskan lagi. Bisa saja muncul pertanyaan dari masyarakat awam, nda Salafi?? a,? jawab kita. alafi Yamani atau Salafi Haraki?? Akan butuh waktu panjang untuk menjelaskannya.?

   (Dinukil dari Ada Apa Dengan Salafi: Jawaban Atas Tuduhan dan Koreksi Terhadap Istilah Salaf, Salafi dan Salafiyyah. Penerbit Rumah Dzikir, Solo, hal. 272-275. Beberapa kalimat dari nukilan aslinya yang tidak berkaitan dengan kritik, sengaja tidak ditampilkan. Biarlah ia murni sebagai kritik, tanpa kembangan lain-lain). 

Koreksi Total Dakwah Salafi
   Abu Umar Basyir: ?Baru-baru ini muncul sebuah buku, yang tampaknya ingin melakukan koreksi total terhadap dakwah Salafiyah di Indonesia. Si penyusun buku itu menyayangkan sikap keras banyak kalangan dai salafiyin dalam berdakwah.?
   Harus diakui, tujuan besar di balik penulisan buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak itu ialah untuk mengkritisi sikap keras sebagian dai Salafi. Dalam Ůukaddimah? buku DSDB saya katakan, Ŵecara pribadi saya tidak apriori dengan komunitas Salafy Yamani. ?Tulisan ini pun saya maksudkan sebagai nasehat agar mereka mau bersikap lebih bijaksana dan lembut. Jika selama ini mereka dikenal luas sebagai komunitas yang sangat giat dalam mengoreksi kesalahan-kesalahan pihak lain, maka sesekali mereka juga perlu mendapat koreksi dari saudaranya yang lain, agar tidak ada monopoli dalam menegakkan kebenaran.? (DSDB, hal. 2). Dalam udul sayap? juga disebutkan, Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi.
   Saya tidak bermaksud melakukan koreksi total, sebab tujuan seperti itu memang tidak ada dalam buku DSDB. Saya hanya mengarahkan perhatian terhadap sebuah komunitas Salafi (disana disebut Salafi Yamani). Dalam bagian-bagian tertentu, saya termasuk bersikap hangat kepada Salafi Abu Umar Basyir, Abu Salma, majalah As Sunnah, dan lainnya. Sungguh, saya tidak pernah membayangkan bahwa perkembangan terakhir yang ada, saya justru berhadapan dengan Salafi terakhir ini.

Mengaburkan Substansi Salafiyah
   Abu Umar Basyir: Ŵayangnya, buku itu terjebak dalam penggunaan istilah-istilah yang justru mengaburkan substansi salafiyah dan salafiyin.?
   Sungguh, sangat sulit bagi saya untuk menyebut kalangan Ŵalafi Yamani? telah keluar dari barisan Salafi. Mereka memiliki website salafy.or.id, dan dulu memiliki majalah Salafy. Klaim mereka tentang Salafi sudah tidak diragukan lagi. Sebagai buktinya ialah kajian-kajian mereka tentang Sururi atau Sururiyah. Mereka menganggap Sururi bukan Salafi. Sedangkan pihak-pihak yang dianggap Sururi itu termasuk majalah As Sunnah, majalah Al Furqan, Ustadz Abdurrahman At Tamimi, Ustadz Mubarak Bamullim, Abu Qatadah, Ihyaut Turats Al Islamy, penerbit Imam Bukhari, Penerbit Imam Syafi, dll. Istilah Salafi itu mereka bela dengan sungguh-sungguh, sehingga sulit bagi kita menyebutkan mereka bukan Salafi.
   Memang kemudian, setelah terbit buku DSDB, saya mendapatkan istilah-istilah baru. Di situs Abu Salma Al Atsari saya dapati istilah-istilah untuk mereka, misalnya: Jamaah Tahdzir; Kaum Syadid, Tanfir, dan Tabdi?; dan Haddadi. Nama yang kemudian sering saya dengar adalah HADDADI. Mungkin yang diinginkan oleh Abu Umar Basyir, saya tidak perlu lagi menyebut mereka sebagai Salafi, tetapi cukup disebut kaum Haddadi atau Hizbi (organisasi fanatik). Saya tidak mengeluarkan mereka dari Salafi agi pula siapa yang bermaksud mengeluarkan suatu kaum dari tempat-tempat yang disukainya-, lebih karena kehati-hatian.
   Jika karena pemakaian istilah Salafi Yamani dan Salafi Haraki, kemudian dianggap mengaburkan substansi Salafiyah dan Salafiyin, saya justru balik bertanya: Ţpa itu substansi Salafiyah? Dan apa pula substansi Salafiyin? Apakah bisa dibenarkan, bahwa karena suatu istilah (Salafi Yamani dan Salafi Haraki) lalu akidah Salafiyah (baca: akidah Ahlus Sunnah) dan manhaj-nya menjadi kabur? Apakah karena istilah itu, manusia tidak bisa membedakan Tauhid dari syirik, Sunnah dari bidh, Jamaah dari tafarruq? Sejak kapan suatu istilah bisa mempengaruhi kemurnian akidah?? Padahal, kebaikan atau keburukan itu tergantung kenyataan yang ada, bukan karena istilah-istilah. Ada orang yang menyebut kelompoknya Ahmadiyyah, Darul Hadits, Jamaah Islam, Darul Islam, Jamaah Jihad, dll. Semua istilah itu baik, namun apakah keadaan mereka sesuai istilah yang dipakainya? Jika demikian, maka ketahuilah, sejak lama di Indonesia telah muncul Pesantren-pesantren Salafiyah.
   Sungguh, saya heran bagaimana orang itu bisa membuat kesimpulan yang mengada-ada. Hanya karena suatu istilah, dia bicara soal pengaburan akidah. Mengapa tidak sekalian saja suatu kaum berkata, Ţkibat tersebarnya istilah ini dan itu, maka ajaran Islam hampir hancur karenanya!? 
   Dan lebih menarik, seseorang menyebut ungkapan Ŵubstansi Salafiyin?. Substansi itu artinya isi, materi, atau content, sedangkan Salafiyin artinya orang-orang yang menisbatkan diri kepada madzhab Salafus Shalih. Saya tidak mengerti ketika kata substansi dihubungkan dengan manusia (suatu kaum). Apakah ubstansi Salafiyin? itu artinya tulang-tulang, darah, daging, organ-organ tubuh, dll.? Wallahu aam.   

Penulis Bersikap Plin-Plan
   Abu Umar Basyir: ?Boleh saja si penyusun ingin bersikap tengah, dengan tidak menyudutkan semua fihak. Tapi justru membuatnya menjadi plin-plan. Di satu waktu ia seperti mengecam sebagian Salafiyin radikal sebagai telah keluar dari Ahlus Sunnah, telah pantas disebut hizbiyah. Tapi sebelumnya penyusun enggan mengeluarkan setiap fihak yang bertikai di kalangan mereka yang mengaku sebagai Salafiyin, bahwa kelompok si Fulan misalnya, telah keluar dari Salafiyah, telah menyimpang dan menyempal menjadi hizbiyah.?
   Perhatikan kalimat, ţoleh saja si penyusun ingin bersikap tengah, dengan tidak menyudutkan semua fihak.? Ini jelas kalimat yang salah. Sejak awal saya sudah ulo nuwun? (kata orang Jawa, artinya permisi), bahwa saya akan mengkritisi salah satu kalangan Salafi. Ini telah terungkap jelas sejak awal, di bagian Ůukaddimah?, bahkan tertera dalam cover buku, Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi. Indikasi-indikasi seperti ini sangat jelas, sehingga sulit dipahami jika ia tidak terbaca oleh seseorang. Kalau disebut tidak menyudutkan semua pihak, jelas SALAH. Upaya mengkritisi suatu kaum dalam buku DSDB benar-benar telah disebutkan dengan jelas. 
   Perhatikan lagi, ťi satu waktu ia seperti mengecam sebagian Salafiyin radikal sebagai telah keluar dari Ahlus Sunnah, telah pantas disebut hizbiyah.? Ini adalah tuduhan yang mengada-ada. Cobalah cari satu kalimat dalam buku DSDB yang menegaskan bahwa saya telah mengeluarkan Ŵalafi Yamani? dari Ahlus Sunnah! Tidak perlu banyak-banyak, cukup satu kalimat saja! Saya tidak pernah bersikap demikian, sebab mengeluarkan manusia dari Ahlus Sunnah itu sama saja dengan menganggap mereka sebagai Ahli Bidh. Ini bukan perkara kecil! Dalam buku itu saya hanya bersikap kritis kepada Ŵalafi Yamani?, karena mereka sering melampaui batas dalam sikapnya kepada kelompok-kelompok Islam di luar kelompoknya. Namun, dalam konteks DSDB itu, saya masih mengakui mereka sebagai bagian dari Ahlus Sunnah.     
   Di halaman terakhir isi buku, saya katakan: Ūntinya, Salafy Yamani (atau apapun istilah yang lebih Anda ridhai) tetap memiliki kebaikan-kebaikan, sebagaimana yang lain juga memiliki kebaikan. Jika mereka memiliki kekurangan, maka pihak-pihak lain pun juga tidak lepas dari kekurangan-kekurangan (termasuk diri saya sendiri). Maka semangat yang dikemukakan disini bukanlah semangat menyerang atau menjatuhkan, tetapi semangat saling nasehat-menasehati.? (DSDB, cetakan I, hal. 177).
   Menurut Abu Umar Basyir,  suatu kelompok telah keluar dari Ahlus Sunnah jika telah menjadi Hizbiyyah. Saya tidak tahu, darimana didapat kaidah seperti itu? Dalam praktek, banyak organisasi-organisasi Islam yang berhaluan Ahlus Sunnah, misalnya Jamaah Ansharus Sunnah di Mesir dan Sudan, Jamaah Salafiyah di India, Ihyaut Turats Al Islamy di Kuwait, Al Irsyad Al Islamiyyah di Indonesia, dan lainnya. Apakah karena Hizbiyyah (jika bisa disebut demikian), kita akan mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah? Sungguh, ini bukan perkara kecil, Bang!
   Dalam buku DSDB itu saya tidak pernah mengeluarkan Salafi (manapun) dari Ahlus Sunnah. Jika saya dianggap mengeluarkan, adakah buktinya? Lagi pula, apa manfaatnya mengeluarkan manusia dari tempat-tempat tertentu?
   Saya mengkritik keras suatu kelompok yang mengklaim aling Sunnah?, padahal pemahaman dan perbuatan mereka sering bertabrakan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah. Tetapi kritik itu belum sampai mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah. Tentu dibutuhkan bukti-bukti untuk sampai pada kesimpulan demikian. Namun, suatu saat nanti, akan saya jelaskan sikap tegas saya dalam hal ini, insya Allah.
   Soal tuduhan saya bersikap plin plan, itu hanya cara memahaminya yang tidak tepat. Apakah karena suatu kaum dikritik keras, lalu mereka dikeluarkan dari Ahlus Sunnah? Tidak semudah itu. Lihatlah disana, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah marah besar kepada Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, karena dia telah membunuh manusia yang telah mengatakan Laa ilaha illa Allah. Rasulullah juga pernah mengisolasi Kab bin Malik dan kedua temannya radhiyallahu 'anhum, karena mereka tertinggal dari mengikuti Perang Tabuk. Beliau juga pernah menasehati kaum Anshar radhiyallahu 'anhum karena mereka mempertanyakaan keadilan Rasulullah soal pembagian ghanimah pasca Perang Hunain. Begitu kuatnya nasehat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di hadapan Anshar radhiyallahu 'anhum, hingga mereka menangis sesegukan, air-mata membasahi janggut-janggut mereka.
   Mungkinkah disebut Ahlus Sunnah, jika serampangan dalam menghukumi manusia, sebelum terkumpul sekian bukti-bukti kuat?
   
Pengantar Untuk Syaikh Al Madkhali
   Abu Umar Basyir: ?Di awal buku sendiri, penyusun menukil tanggapan seorang dai terhadap syaikh Rabi? dengan bahasa yang kasar. Di luar apakah penyusun setuju ataukah tidak setuju dengan pernyataan kasar itu terhadap Syaikh Rabi?, meletakkan pernyataan itu di awal buku sudah menunjukkan sebuah kekeliruan fatal. Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi?. Beliau adalah salah satu dari ulama Ahlussunnah yang cukup dihormati oleh para penuntut ilmu.?
   Banyak sudah yang bertanya soal ata pengantar? DSDB yang ditulis oleh Abu Abdillah Al Mishri. Sebenarnya, ada rasa malas untuk berkomentar, sebab ia memang hanya pengantar, bukan bagian dari isi buku. Namun begitu banyaknya suara-suara pembelaan terhadap Syaikh Rabi? Al Madkhali, akhirnya saya jengah juga. Begitu hebat pembelaan mereka terhadap Al Madkhali, seolah beliau itu sosok suci yang tidak boleh cidera sedikit pun kehormatannya? Apakah demikian manhaj Ahlus Sunnah dalam memuliakan ulama, yaitu membelanya secara mutlak (100 %), tanpa sedikit pun tersisa ruang untuk mengkritiknya? Saya merasa, pembelaan seperti ini sudah berlebihan, sehingga perlu kita saling berbagi nasehat disini, khususnya dengan Ustadz Abu Umar Basyir Al Maidani hafizhahullah wa iyyana.
   Kata pengantar, apalagi engantar penerbit?, tidak ada kaitannya dengan kebijakan penulis. Ia ada karena diadakan oleh penerbit. Jika seorang penulis terlibat, paling sifatnya hanya memberi rekomendasi nama-nama tertentu. Dalam hal ini, keputusan mencantumkan ata pengantar? dari Abu Abdillah Al Mishri adalah murni keputusan penerbit, bukan penulis.
   Mula-mula saya ingin bertanya kepada Salafi, Ţpakah dilarang seseorang atau suatu kaum melontarkan celaan kepada seorang ulama?? Saya yakin, rata-rata Salafi akan menjawab, ũaram mencela ulama! Daging ulama itu racun!?
   Jika demikian jawabannya, saya bertanya kembali, ?­alu bagaimana dengan tradisi cela-mencela dalam khazanah ilmiah Islam?? Bukankah sering terjadi ikhtilaf di bidang fiqih, penafsiran dalil, pensahihan hadits, intepretasi sejarah, dll. lalu muncul sikap saling menyalahkan satu ulama dengan ulama lainnya? Khusus dalam bidang hadits dikenal salah satu cabang ilmu Jarah wa Tail (celaan dan pujian terhadap perawi-perawi hadits). Al Madkhali sendiri dikenal luas dalam soal Jarah wa Tail ini.   
   Sekarang persoalannya, apakah celaan itu bersifat konstruktif atau destruktif? Jika celaan ditujukan kepada tokoh-tokoh sesat, pemimpin-pemimpin bidh, manusia-manusia zhalim, penolong-penolong syaithan dan musuh Islam, dan siapa saja yang serupa itu, maka jelas celaan menjadi konstruktif. Betapa banyak ayat-ayat Al Qurn yang mencela manusia-manusia yang berhak dicela, seperti kaum Nuh, Tsamud, ad, Sodom, Namrudz, Firun, Qarun, kaum pendurhaka Bani Israil, Jalut dan tentaranya, tokoh-tokoh musyrikin Quraisy, dll.   
   Tetapi jika celaan itu ditujukan kepada ulama Ahlus Sunnah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendalami ilmu, ketika orang lain menghambur-hamburkan untuk hiburan; (2) Mengamalkan ilmu, bertakwa, wara?, ikhlas dalam ibadah, serta menyembunyikan amal; (3) Berakhlak mulia, bersikap adil terhadap lawan dan kawan, lembut hati terhadap orang-orang beriman, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir; (4) Berdakwah di jalan Islam dengan lemah-lembut, hikmah, pelajaran yang baik, berdebat dengan kaum yang menyimpang secara ihsan; (5) Berjuang di jalan Allah, mendukung kaum mujahidin, mendoakan mereka, menyantuni anak dan isteri mereka, melindungi Ummat dari makar kufar, baik melalui tulisan maupun diplomasi; (6) Menasehati para penguasa agar menunaikan amanah, menyayangi rakyat, menjaga Islam dan Ummatnya; Menasehati penguasa agar takut terhadap siksa, jika berbuat zhalim; Agar gembira hatinya, ketika mampu bersikap adil; Serta tulus mendoakan kebaikan pemimpin-pemimpin Islam.
   Celaan-celaan yang ditujukan kepada ulama-ulama seperti di atas jelas salah sasaran, bahkan ia merupakan mushibah besar yang harus ditangisi dengan berlinang air-mata. Ketika kita mencela ulama-ulama Rabbani yang lurus, saat itu juga kita telah mencela para Waratsatul Anbiya? (pewaris Nabi-nabi). Jika para ulama Rabbani sudah dianggap tidak mulia lagi, lalu siapa lagi dari Ummat ini yang pantas dimuliakan? Sikap buruk kita kepada mereka tidak ada bedanya dengan sikap jahat Bani Israil kepada Musa 'alaihissalam dan saudaranya. Hingga ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dituduh telah berlaku tidak adil, beliau berkata: Ŵemoga Allah merahmati Musa, sungguh dia telah diganggu dengan (gangguan) yang lebih banyak dari ini, namun dia tetap sabar.? (HR. Bukhari-Muslim).
   Dalam konteks Syaikh Al Madkhali, beliau adalah ulama yang dikenal memiliki keluasan ilmu, dalam bidang akidah, fiqih, dan hadits. Ada yang menyebut beliau dengan gelar oktor?, ada juga yang menyebutnya dengan rofesor?. Dalam soal ilmu, Al Madkhali termasuk ulama yang mumpuni. Namun dalam rangka Dakwah Islam, beliau telah mempersulit dirinya dengan membuka front permusuhan dengan elemen-elemen Kebangkitan Islam. Metode Jarah wa Tajrih (celaan) yang beliau kembangkan telah menyulut perselisihan luas di tengah-tengah Ummat 1.  Al Madkhali sangat intensif dalam mengkritik pemikiran Sayyid Quthb rahimahullah, kemudian mengkritik Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Syaikh Salman Al ?Audah, dan lainnya. Perlawanan Al Madkhali terhadap pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb sudah tidak diragukan lagi. Itu baru dalam konteks buku (khazanah ilmiah). Belum lagi dalam dakwah di lapangan, yaitu sikap kerasnya terhadap pihak-pihak yang dituduhnya sebagai Hizbiyyah dan Ahli Bid?ah. Begitu kerasnya sikap Al Madkhali hingga pernah ada yang memberinya gelar, ?Pemegang bendera Jarah Wa Ta?dil di jaman ini.?
   Seandainya Al Madkhali mencukupkan sikap kritisnya di atas metode ilmiah, tidak memperpanjang celaan, tidak menyulut emosi, tentu banyak pihak akan menghargai jasa-jasanya. Sebagai perbandingan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga dikenal sebagai pembela Sunnah dan pembantah alairan-aliran sesat. Tetapi bantahan beliau murni bersifat ilmiah, tidak masuk ke wilayah pribadi, tidak tercampuri oleh emosi-emosi. Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar Syaikhul Islam mendendam kepada seseorang (meskipun musuhnya), menyumpahinya, mencelanya habis-habisan, bahkan melaknatnya. Kisah Ibnu Taimiyyah dengan Ibnu Makhluf adalah catatan sejarah yang selalu dikenang sampai saat ini. Kemudian lihatlah bagaimana tulisan-tulisan Al Madkhali ketika mengkritik tokoh-tokoh tertentu?       
   Apa jadinya jika setiap tokoh yang dikritik pedas oleh Al Madkhali ternyata memiliki banyak pengikut? Apakah pengikutnya akan diam saja? Jika pengikutnya bertindak, baik dengan ucapan atau perbuatan untuk menolong panutan-panutan mereka, apakah hal itu dianggap berlebihan? Setahu saya, penulis pengantar dalam buku DSDB itu termasuk kalangan dai yang bersimpati besar kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, termasuk Sayyid Quthb di dalamnya. Jika kemudian, ada yang ingin membela Sayyid Quthb dengan mencela balik para pencelanya, maka ia bukan perkara aneh.
   Lihatlah ayat ini: ?Jika kalian menimpakan balasan, balaslah dengan balasan yang setimpal dengan apa yang telah menimpa kalian. Namun jika kalian bersabar, maka hal itu lebih baik bagi orang-orang penyabar.? (Surat An Nahl: 126). Serangan terhadap Sayyid Quthb, lalu dibalas serangan balik kepada para penyerang, adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Meskipun, seandainya suatu kaum mau memaafkan kesalahan kaum lainnya, hal itu lebih baik akibatnya.     
   Justru saya heran dengan Salafi. Mereka jelas-jelas sudah tahu bahwa Al Madkhali telah mengkritik habis tokoh-tokoh tertentu, termasuk mantan sahabat baiknya sendiri, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq. Jika demikian, mengapa mereka seperti marah besar ketika ada pihak-pihak yang mengkritisi Al Madkhali? Apakah guru mereka boleh mengkritik keras orang lain, tetapi tidak boleh dikritik sama sekali? Apakah kebenaran itu mutlak ada di sisi Al Madkhali, dan kesalahan mutlak di sisi orang-orang yang dimusuhinya? Apakah yang demikian ini termasuk manhaj Ahlus Sunnah? Bukankah manhaj Ahlus Sunnah berada di atas timbangan keadilan?
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata, ??Kelompok ketiga ini adalah kaum yang adil dan inshaf, memberikan kepada setiap yang berhak akan haknya, dan menempatkan setiap yang memiliki posisi pada posisinya, mereka tidak menghukumi orang-orang yang sehat dengan hukum bagi orang-orang sakit, dan tidak pula hukum bagi yang sakit dengan hukum bagi yang sehat. Akan tetapi menerima yang bisa diterima, dan mengambil yang bisa diambil.? (Madarijus Salikin, 2/39-40).
Abu Umar Basyir: ?Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi?. Beliau adalah salah satu dari ulama Ahlussunnah yang cukup dihormati oleh para penuntut ilmu.?
Kalau dikatakan tidak ada ulama Ahlus Sunnah yang mencela sikap Syaikh Al Madkhali, justru itu kesimpulan aneh. Bagaimana mungkin seorang ustadz Salafi hingga tidak tahu perkara seperti ini? Al Madkhali itu namanya telah dikenal luas di Dunia Islam. Tidak mungkin seluruh kaum Muslimin, para ulama dan masyarakat awamnya, memuji-muji Al Madkhali seluruhnya, tanpa sedikit pun mencelanya. ?Ajiib?
Surat terbuka yang ditulis Syaikh Bakr Abu Zaid untuk Al Madkhali adalah salah satu contoh nyata celaan terhadapnya. (Lihat Siapa Teroris Siapa Khawarij, hal. 321-326). Kemudian Syaikh Abdurrahman Al Jibrin dengan tegas mendukung surat terbuka Syaikh Bakr Abu Zaid. Kedua ulama ini adalah anggota Hai?ah Kibaril Ulama Saudi. Bahkan ketua Al Hai?ah setelah wafatnya Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah, yaitu Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, memuji kitab Fi Zhilalil Qur?an dan mengatakan terhadap orang-orang yang mencela kitab itu, ?Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam, dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb.? (STSK, hal. 326). Disana juga ada Syaikh Abdullah bin Al Hasan Al Qu?ud rahimahullah yang juga mencela sikap Al Madkhali. Saya sendiri menyangka, ulama seperti Syaikh Hamud Al ?Uqla Asy Syua?ibi tidak jauh sikapnya dari ulama-ulama di atas.
Dalam salah satu rekaman seperti yang pernah dimuat oleh islamgold.com, Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang tentang perlunya men-tahdzir kitab-kitab Sayyid Quthb, maka beliau menjawab, ?Perlu diperingatkan dari kitab-kitabnya, yaitu orang-orang yang di sisi mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus.? (Sumber situs Islamgold.com). Mungkin, ini bukan celaan khusus yang ditujukan kepada Al Madkhali, tetapi semua orang tahu betapa kerasnya sikap Al Madkhali dalam mengingkari buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah. Al Albani mengatakan, ?Mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus!? Perhatikan ya Syaikh Fadhil, apakah kalimat ini berisi ta?dil atau jarah? 
   Dalam kesempatan lain, Syaikh Salim bin ?Ied Al Hilaly, saat Seminar Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah di Brooklyn, New York Amerika. Beliau mengingatkan tentang bahaya kaum Haddadi. Disana beliau berkata:
   ?Perkara lain yang juga harus kita perhatikan adalah, bahwa kita memiliki beberapa syabab, yaitu para pemuda yang tidak kita ragukan keikhlasan mereka, namun kita ragukan metodologi mereka, atau kita mempermasalahkan cara atau manhaj mereka. Ada dari orang-orang ini yang mengumpulkan (mencari-cari) kesalahan para penuntut ilmu atau dai (penyeru) dakwah ini. Mereka himpun setiap kesalahan yang akan diperbuat oleh para dai atau penuntut ilmu ini, kemudian mereka menelpon masyaikh dan menceritakan kesalahan-kesalahan ini?
   Ini adalah metode yang jelek, dan orang-orang tersebut, sekali lagi saya katakan, saya tidak ragu dengan keikhlasan mereka, namun cara yang mereka pergunakan ini adalah tidak benar dan cara ini dapat merusak persaudaraan dan menjadikan hati saling bermusuhan antara satu dengan lainnya, baik diantara ahlul ilmi maupun masyarakat secara umum. Ini merupakan jalan yang buruk!!! Ini jalan yang rusak!! Oleh karena itu mereka seharusnya takut kepada Allah Tabaroka wa Ta?ala!!! Tidak!! Kelak mereka akan melihat kesalahan ini... mereka mengangkat telpon dan menghubungi Syaikh Rabi? (Al Madkhali ?pen.), atau mereka menelpon Syaikh Ubaid Al Jabiri atau mereka menelpon orang lain yang seperti ini, setelah mereka mengumpulkan kesalahan-kesalahan (saudara mereka).
   Mereka seharusnya takut kepaa Allah Tabaroka wa Ta?ala dan sadar bahwa
Allah Tabaraka wa Ta?ala memperhatikan dan mengamati mereka dan ketahuilah bahwa hal ini adalah perkara yang tidak benar, cara yang salah untuk dilakukan... Hal ini merupakan jalan yang keliru di dalam melalui perkara ini. Dan ada diantara mereka yang akan menggambarkan segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang sebagai hizbiyah. Suatu jama?ah atau para ikhwan yang sedang berkumpul di suatu ruangan dan berdiskusi dikatakan hizbiyah!!! Suatu jamaah atau para ikhwan yang terlibat di dalam suatu yang mereka sepakati dikatakan hizbiyah!! Segala sesuatunya menurut mereka adalah hizbiyah!!!? (Dakwah Salafiyah dan Bahaya Manhaj Haddadiyyah, sumber almanhaj.or.id).
   Memang, Syaikh Salim Al Hilaly tidak secara khusus bicara tentang Syaikh Al Madkhali, beliau hanya bicara orang-orang yang suka melapor kepadanya. Tetapi perhatikanlah, bagaimana urusan lapor-melapor itu bisa terjadi, jika pihak yang dilapori tidak ridha dengan cara-cara seperti itu?
   Saya masih ingat kebiasaan Salafi menyerang Syaikh Salman Al ?Audah dan Safar Al Hawali. Lalu kepada mereka ditunjukkan bahwa Kibarul Ulama di Saudi memuji kebaikan-kebaikan keduanya, seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al ?Utsaimin rahimahumallah. Mendadak mereka mencari-cari jalan untuk mengingkari pujian itu dengan mengatakan bahwa bahwa pujian ulama terhadap seseorang tidak otomatis melupakan celaan-celaan ulama yang lain terhadapnya. Atau dengan singkat kata, jarah (celaan) didahulukan dari ta?dil (pujian). Konsekuensinya, apakah metode seperti ini bisa juga diterapkan kepada Al Madkhali, yaitu celaan kepadanya didahulukan daripada pujian untuknya? Seharusnya bisa, jika Salafi masih memiliki kejujuran hati. Namun persoalannya bukan lagi kebenaran, tapi fanatisme buta.

Bersambung.....(insyaallah)

 

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/25_160_2007_02

Komentar
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1)
Oleh abdika ( 13 Maret 2008 21:15:55 )
Mari kita berbenah diri, menata hati, banyak belajar tanpa bosan, mempererat ukhuwah sesama muslim, tidka mudah saling mengklaim yang paling benar. Ada buku yang berjudul HIDUP ADALAH SEOLAH-OLAH, agar kita bisa kita jadikan motivasi untuk olah fikir, olah dzikir dan oleh hati. mari kita budayakan menghormati para ulama yang berilmu dan kita merasa kurang ilmu, agar kita tidka mudah menyalahkan.
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Ahmad S at 12 September 2008 13:45:08
Sekedar mengingatkan!
Jangan terpancing syetan.
syetan tinggi ilmunya (jadi bangga dan sombong terhadap yang lain) tapi tak paham agama (tak paham perintah Allah SWT) maka tempatnya neraka.
Jangan jadi seperti SYETAN!
mudah2an Allah beri kepahaman. Amin
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh jaulah at 20 Oktober 2008 09:17:14
ehm ngebaca dulu ya...
Mengapa ada gambar orang (foto)
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh salafi_parah at 02 Maret 2009 00:33:14
ribut melulu neeh salafi ... manhaj salaf itu mulia .. tapi manhaj salafiyun itu bejat ..
ini situs salafy gadungan
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Yusuf Faqih at 30 Juli 2009 17:33:45
Yang Jelas, tidak ada Istilah salafiyun yang ada hanyalah ahlussunnah, tidak masalah jika tidak kita dikatakan salafiyun, yang penting kita tetap mengikuti ahlussunnah wal jama'ah.
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Abu Unaisah at 01 Desember 2009 15:44:01
Bismillah.
Hendaknya Kita berjiwa besar dalam membaca sesuatu, bisa membedakan antara nasihat dengan mencela
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh muhannad at 13 Mei 2010 08:02:05
hahahaha...lucu, lucu.
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh riki arfandy at 25 September 2010 08:51:39
parah bgd salafy akhir2 ini yg qt harapkan bersatu malah saling cela,ck ck ck sdih rasamya,kasian org awam yg bru mngenal mnhj yg berberkah ini,dirusak o;eh org2 yg tdk brtnggng jwm,sok suci,apa kalian tdk bising dgn yg slma ini!!!
pdhl ulama'y sm tp msh ribut aja!!!!
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh NN at 30 Oktober 2010 22:53:27
mungkin alangkah baiknya kita tidak saling mencela hingga menguntungkan pihak2 yg menginginkan perpecahan umat, mgkin itulah maksud para ulama yang ahlul 'ilmi untuk tidak mencaci, ambillah yang baik dan haq dan buanglah yang buruk lagi bathil.
reply oleh AlexisMorin32 at 02 November 2010 10:23:07
I opine that to get the <a href="http://bestfinance-blog.com">loans</a> from banks you must have a great reason. However, one time I have received a short term loan, just because I was willing to buy a car.
reply this post oleh essay writing at 09 November 2010 23:45:04
I would like to tell that I have rich experience of novel essays buying. I claim that the online essays service can be the best assistant in the term papers completing case.
answer this topic oleh buy best research papers at 12 November 2010 10:04:52
To buy custom written research papers is not difficult. Moreover, it trains your techniques.
respond oleh buy a research paper at 19 November 2010 07:08:35
I opine that you do know how difficult could the custom essay accomplishing be. Nevertheless, you shouldn’t be disappointed, just because the term paper writing services present the do my paper essays and there’s not a big problem to buy a research paper and be totally happy.
answer this post oleh buy term paper at 19 November 2010 10:58:05
We could speak for a long time just about the chronicle of research papers writing, but I would tell that the buy paper service could compose the greatest custom writing ever. Is that correct?
No Title oleh Yusuf Surpiadi at 06 Januari 2011 05:32:05
Salafi sejati adalah yang mengikuti manhaj salafus soleh dalam mengambil ilmu, beraqidah dan berdakwah. bukan sekedar mengikuti ustadznya alias taqlid
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Ahmed at 12 Januari 2011 10:50:42
Assalamualaikum...
Afwan...pemilik atau pengelola ebsite ini kayaknya orang yang kurang faham thd agama...mengilmui tapi tidak memahami...
Jika antum salafiy tulen,,,..lalu mengapa memasang gambar/foto para ulama di situs ini...anda jangan menjadi penebar fitnah. Kasihan dirimu...fitnah kau sebar namun ia berbalik ke dirimu sendiri...
Barakallahufiikum
answer this post oleh write my essay cheap at 12 Januari 2011 14:13:05
I state that it's real to buy custom essay for reasonable costs online. You simply need to search for tightly!
respond this post oleh research papers online at 12 Januari 2011 14:42:06
It all starts with a way out. The way is to not ever again allow different students to intrude while you are keep on. I am completely charmed with your material it will help me in my custom term papers
answer oleh research paper services at 14 Januari 2011 16:15:49
Examinations time makes me scared. I have got a depression having to write another research paper. Lastly I've heard that I could buy research papers online. I opine that supposed to be a scam, however, I risked. Thus, everything was okey! Don't be scared to use something new!
orang kaya abu umar keliatan ga ada ilmu pake ngritik ustad abdul hakim ga tau malu.....zindiq kau......
respond this topic oleh essay writing service at 17 Februari 2011 12:03:10
Previously I asked my comrades to help me with essay papers accomplishing. Nevertheless my marks used to be not high. Hence, I decided to utilize the custom paper writing services. At last I was fulfilled with my greades. Experienced academic paper writers know the way how to assist different students.
answer oleh term paper services at 14 Mei 2011 08:15:28
University students shouldn’t split their time for term papers performing, because the papers service can do it for them really fast. Therefore that will be possible to utilize more time for another issues.
answer this post oleh link packages at 24 Agustus 2011 18:58:10
Opting for the link packages providing services, sites owners should beware of scam firms. Even quality site optimization can be ruined by scams, who are able to prevaricate because of financial benefits having no worries about customers' results.
Begun, the great internet edutcaion has. oleh Rumor at 12 Oktober 2011 12:32:58
Begun, the great internet edutcaion has.
Hey, that post leaves me felenig foolish. Kudos to you!
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Muzakir at 12 Oktober 2011 14:40:57
coba yang Punya Artikel post juga biografi antum spy qt tau siapa antum dan kadar keilmuan antum
HT4sbK dldkuzzerxhx oleh fbwuwtlpd at 13 Oktober 2011 18:37:43
HT4sbK <a href="http://dldkuzzerxhx.com/">dldkuzzerxhx</a>
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh abdullah at 15 November 2011 21:49:45
orang ngakunya sama2 salafy tapi adanya saling menghujat dan mentahdzir satu sama lain dasar salafy gadungan bisanya cuma menjelekkan tanpa mau melihat kebobrokan sendiri
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Abu Nahda at 13 Desember 2011 12:22:38
Jadi intinya Syaikh Qutb itu dibela oleh Syaikh Bakr Abu Zaid lalu Syaikh Bakr Abu Zaid juga mendukung pembelaan Syaikh Bakr yang notabene keduanya adalah anggota Hay'ah kibaril ulama saudi malah salah satunya ketua kibaril ulama.

Para syaikh ini mengkritik Syaikh Madhkali ketiak beliau minta buku yg beliau tulis untuk diberi pengantar oleh anggota kibaril ulama diatas, tapi setelah membaca draftnya, ulama anggota kibaril ulama malah membela Syaikh Quthb dan menasihati Syaikh Madhkali agar adil dalam memandang syaikh quthb sambil mengatakan bahwa buku2 Syaikh qutb yang dijadikan sasaran kritik Syaikh Mahdhali itu bahasanya tingkat tinggi sehingga diiibaratkan syaikh Quthb ini mahasiswa sedangkan Syaikh Madhkali ini baru pelajar sma sehingga banyak yang disalahtafsirkan sebagai hal yg sesat padahal tidak.

Begitu surat terbuka dari Syaikh Bakr kepada Madhkali.

Aneh kalau para pengikut Syaikh Madhkali ini begitu merah kupingnya ketika syaikhnya di kritik tapi senang syaikhnya mengkritik malah mencela para syaikh dan mujahidin! Syaikh yasin aja yang di rudal Israel setelah sholat subuh dicela! Wah ada ada saja.

Salafi apaan tuh?
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh Logo design at 27 Desember 2011 18:56:28
Your posts are helpful and informative as always. Thanks very much.
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh muhammad maskuri at 28 Desember 2011 11:39:38
Ya... Alloh.. janjimu adalah benar setiap perbuatan baik maupun jahat walau sebesar biji zarroh pun mendapat balasan.. bukan karena bendera.. kelompok.. julukan.. ataupun merasa yg terbaik.. islam hanya 1 ... bukan salafiyah,qutbiyah,nahdliyah, muhammadiyah, persisiyah..HTI yah.. sururiyah.. semua adalah tujuannya 1 tegaknya islam yg rahmatan lil ' alamin...

malaikaiat Munkar dan Nakir hanya bertanya Man Robbuka.. wamannabiyuka.. wamankitabuka.. wamanikhwanuka.. bukan.. waman salafiyuka.. waman nu nuka..dll .

1 Tuhan yakni Alloh SWT.... 1 islam.. 1 kiblat.. 1 sajadah.. 1 saudara.. yang di lihat Alloh ke taqwaannya.. amiin

answer this post oleh mortgage loans at 03 Januari 2012 03:16:19
It's good that we are able to get the credit loans moreover, it opens up completely new opportunities.
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (1) oleh adi at 30 April 2014 16:54:31
mbulet.
Tulis Komentar Anda disini

Judul

Nama Anda

Website




Masukkan kode verifikasi