Anda disini : TOP >> Hizbiyah >> Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)
Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)

Nekad Membuat Identifikasi
   Abu Umar Basyir: ?Kemudian, meski dengan tujuan hanya untuk mengidentifikasi, penyusun nekat membagi kalangan Salafiyin di tanah air menjadi Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Sekali lagi, meski dengan tujuan identifikasi belaka.?
   Di awal menulis buku DSDB, saya memang sepakat dengan istilah Salafiyah atau Salafi, sehingga ketika membuat identifikasi (penandaan) saya menggunakan istilah Salafi. Saya mengartikan, Salafiyah tidak lain adalah Ahlus Sunnah itu sendiri. Namun penerimaan saya terhadap istilah Salafi kemudian berubah, seiring munculnya pengetahuan-pengetahuan baru. Dalam posisi saat ini saya termasuk pihak yang tidak setuju dengan pemakaian istilah Salafi atau Salafiyin, meskipun saya menghormati pihak-pihak yang berijtihad dalam perkara ini.
   Dalam kalimat di atas, seseorang telah menuduh saya NEKAD MEMBAGI Salafiyin di Indonesia. Di sisi lain dia juga mengakui bahwa tujuan penamaan Salafi Yamani dan Salafi Haraki itu adalah untuk IDENTIFIKASI (penandaan). Bagaimana bisa, satu tindakan dianggap pembagian (klasifikasi), sedang di sisi lain ia diakui sebagai penandaan (identifikasi)? Pembagian dan penandaan jelas merupakan dua perkara yang berbeda. Untuk memahaminya, perhatikan contoh di bawah!
   Seorang pedagang beras membagi-bagi berasnya menjadi klas A, B, C, dan D. Klas A menandakan kualitas beras terbaik, sedang klas D menandakan kualitas terburuk. Ini adalah pembagian atau klasifikasi. Kemudian suatu hari datang kepadanya berkarung-karung beras, tetapi tidak jelas beras itu termasuk klas yang mana. Dengan cermat pedagang itu mulai melakukan pengamatan, hingga diketahui bahwa beras itu termasuk klas tertentu. Ini adalah penandaan atau identifikasi. Titik perbedaannya, dalam pembagian, dibuat patokan-patokan baku untuk membedakan bagian bagian yang satu dari bagian yang lain. Sedangkan dalam penandaan, patokan itu sudah ada, hanya tinggal dilalukan pengukuran antara patokan yang ada dengan barang yang belum diketahui keadaannya. Demikian ilustrasim sederhananya.
   Ketika saya menulis buku DSDB, perpecahan di kalangan Salafi sudah terjadi. Dulu mereka satu barisan, namun setelah muncul Laskar Jihad (LJ), mereka terbelah. Ketika LJ dibubarkan, mereka pun terbelah juga. Di luar itu masih ada Salafi (baca: Ahlus Sunnah) yang lain, yaitu yang menerapkan sisrem Harakah (pergerakan). Perpecahan itu sudah terjadi, dan tentu saja bukan karena buku DSDB. Adapun identifikasi yang dilakukan dalam buku DSDB adalah untuk membatasi pihak-pihak tertentu. Jika tidak demikian, khawatirnya saya akan dituduh mengkritik seluruh elemen Salafi, padahal sasaran yang dituju hanya sebagian dari mereka.
   Jika Abu Umar Basyir Al Maidani masih kesal dengan penjelasan ini, maka saya ingin bertanya kepadanya, Å­alu bagaimana dengan artikel-artikel yang Anda tulis di majalah El Fata yang bertema Sururiyah? Kalau Anda mengharamkan pemakaian istilah Salafi A, Salafi B, dsb. mengapa Anda menghalalkan pemakaian istilah Sururiyah? Apakah pihak-pihak yang Anda sebut Sururiyah ridha dengan istilah itu?? Perlu diketahui, Abu Umar Basyir ini pernah menulis artikel berjudul What Is Sururiyah? (El Fata, edisi 10/II/2002) dan Sekali Lagi Tentang Sururiyah (El Fata, edisi 12/II/2002). Anda mengharamkan suatu perkara, sementara pada saat yang sama Anda menghalalkan perkara yang lebih besar dari itu. Ainal jawab ya Ustadz?
   
Salafiyah Adalah Satu
   Abu Umar Basyir: ?Tapi Salafiyah tidak boleh dikotak-kotakkan. Dakwah Salafiyah adalah satu. Kalau ada pihak-pihak yang mengaku sebagai Salafiyin, namun memiliki banyak pemikiran dan pemahaman yang menyimpang dari Salafiyah, tidak pantas disebut sebagai Salafiyin. Minimal akan dikatakan kepada mereka adalah Salafiyin yang keluar dari Salafiyah pada beberapa poin tertentu, dalam muÃÂmalah atau pemikiran tertentu. Dalam aqidah mereka Salafi, namun dalam metodologi dakwah mereka cenderung ke pemikiran ini dan itu.?    
   Abu Umar Basyir ini tentunya seorang ustadz Salafi, bahkan mungkin salah seorang muÃÂllim di kalangan mereka. Beliau sering menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar fiqih di majalah Nikah dan El Fata. Beliau juga aktif menulis buku, salah satunya yang cukup fenomenal, ialah Sutra Ungu. Kemudian beliau menulis sebuah buku Ada Apa Dengan Salafi?, suatu buku kajian Dakwah Salafiyah, dengan memakai ide judul dari sebuah film anak-anak muda, Ada Apa Dengan Cinta? Sebagai ustadz Salafi, tentu dia sangat hafal kaidah berikut ini: Å®engikuti Al QurÃÂn dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum.?
   Dalam sebuah buku, seorang dai Salafi berkata, ?SALAFIYAH TIDAK BOLEH DIKOTAK-KOTAKKAN. DAKWAH SALAFIYAH ADALAH SATU.? Disini saya ingin membuktikan apakah suatu kaum konsisten dengan manhaj Salafus Shalih atau tidak. Saya berharap, pihak-pihak yang dituju masih memiliki hati nurani dan kejujuran. Saya akan mencoba menukik ke inti masalahnya.
(1)   Jika para Salafiyin benar-benar mengikuti Kitabullah dan Sunnah, serta pemahaman Salafus Shalih, mohon kalian hadirkan SATU NASH SAJA yang menegaskan bahwa SALAFIYAH ITU SATU!!! Cobalah kalian cari satu nash saja dalam Al QurÃÂn, As Sunnah, ijma? Shahabat radhiyallahu 'anhum, atau ijma? Imam Empat rahimahumullah, yang mengatakan bahwa, ?As Salafiyah hiya shirathu wahidah!?, atau ?As Salafiyah hiya firqatu wahidah!?, atau ?As Salafiyah hiya millatu wahidah!? Sungguh, mereka tidak akan menemukannya. Artinya, kalimat Å´alafiyah adalah satu? itu adalah istimbath (kesimpulan) hukum, bukan suatu nash SyarÃÊ. Jika Salafiyah diartikan sebagai Dinul Islam, maka benar bahwa Islam adalah jalan yang satu (Surat Al AnÃÂam ayat 126 dan 153). Namun tidak semua Muslim setuju dengan istilah Salafiyah untuk menyebut agamanya.   
(2)   Perhatikan kalimat, ?SALAFIYAH TIDAK BOLEH DIKOTAK-KOTAKKAN.? Saya terus-terang heran dengan suatu kaum. Mereka mengaku pengikut Salafus Shalih, tetapi tidak mengerti manhaj-nya. Kata-kata ŵIDAK BOLEH? dalam Islam itu artinya HARAM atau TERLARANG. Untuk sampai pada kesimpulan TAHRIM (pengharaman), jelas harus ada dalil-dalil yang qathÃÊ dari Kitabullah dan Sunnah Nabawiyah. Bukankah dalam kaidah fiqih dikatakan, Å¢l aslu fin nahyi lit tahrim? (asal dari perkara larangan itu adalah untuk mengharamkan). Bagaimana seorang Ahlus Sunnah mengatakan ini halal, ini haram, tanpa dilandasi suatu ketetapan SyarÃÊ yang jelas? Cara seperti itu justru merupakan bidÃÂh yang diada-adakan.
   Tidak masalah kita mau membagi Salafiyah sebanyak apapun, sebab memang istilah itu hanya hasil kesimpulan hukum, bukan berdasarkan ketetapan SyariÃÂt yang jelas dan tegas (qathÃÊ). Kita tidak berdosa kepada Rabbul ÁÂlamin dengan menyebut Salafi A, Salafi B, dst. sebab tidak ada aturan yang mengharamkan hal itu. Hanya saja, jika istilah Salafiyah dianggap sebagai suatu nama yang disukai oleh sebagai orang-orang beriman, maka menjaga perasaan mereka adalah perkara yang lebih utama. Sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ŵidaklah salah seorang dari kalian beriman, hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.? (HR. Bukhari-Muslim dari Anas radhiyallahu 'anhu). 
   Setahu saya, pihak yang dianggap melarang pembagian Salafiyah menjadi Salafiyah begini dan begitu adalah Syaikh Salim bin Áªed Al Hilaly. Dalam penutupan Daurah di masjid Al Irsyad Surabaya tahun 2001 beliau berkata, Ŭarena sesungguhnya, barangsiapa yang telah tetap kesalafiyahannya maka dia adalah saudara kita, sama saja baik dia berada dari bagian Barat bumi ataupun Timur-nya? Adapun memilah-milah dakwah Salafiyah menjadi Salafiyah Syamiyah, atau Salafiyah Hijaziyah, atau Salafiyah Maghribiyah, atau Salafiyah Yamaniyah, maka kami berlepas-diri dari pemilah-milahan ini, karena Salafiyah itu satu!? (Tulisan Abu Salma). 
   Pendapat manusia (meskipun seorang ulama) bukan dalil Syariat, sehingga kita boleh menerima atau menolaknya. Jika perkataan itu sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah, kita menerimanya; Namun jika tidak, kita boleh menolaknya. Adapun berlepas-diri (bara?) dalam perkara seperti ini sungguh berlebihan. Ini bukan perkara akidah, tetapi hanya perbedaan ijtihad fiqhiyyah, tidak perlu sampai berlepas-diri.     
(3)   Pemberian nama pada seseorang, pada suatu kaum, atau perkara-perkara apa saja yang bisa diberi nama, adalah hal yang biasa dalam Islam. Salah satu aturan SyariÃÂt, setiap bayi Muslim yang lahir perlu diberi nama dengan nama-nama yang baik. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri tidak menolak adanya nama-nama suku seperti Al Ghifari, Ad Dausi, Al Yamani, Ar Ruumi, Al Farsi, Al Á¢syaÃÂri, dll. Bahkan beliau memberi nama kepada masjid, kota, hewan tunggangan, pedang, dll. Intinya, nama itu harus baik dan mewakili keadaan pihak yang diberi nama. 
   Dalam kehidupan di jaman modern, betapa banyak kita temukan nama-nama, misalnya nama masjid, nama lembaga Islam, nama madrasah atau sekolah Islam, nama majlis taklim, nama penerbitan buku, nama media massa, nama benda-benda dan produk Muslim, nama perusahaan Muslim, dll. Hampir setiap elemen Ummat memanfaatkan kaidah penamaan ini, yaitu memberi nama yang baik dan mencerminkan keadaan pihak-pihak yang diberi nama. Hal seperti ini tidak tertutup bagi siapa yang berakal.
   Jika kita bermaksud memberi nama suatu kaum dengan Salafi Ilmi, Salafi Jihadi, Salafi Haraki, Salafi begini, Salafi begitu, dst. tidak masalah, selama nama itu baik dan mencerminkan pihak-pihak yang diberi nama. Namun jika saudara-saudara kita tidak suka dengan penamaan itu, alangkah baik jika kita tidak menyebut mereka dengan nama-nama yang tidak disukainya.         
(4)   Suatu kaum mengatakan bahwa, Å´alafiyah tidak boleh dikotak-kotak!? Namun dia tidak menjelaskan dalil di balik pelarangan itu. Seandainya kita terima bahwa Salafiyah adalah Islam itu sendiri, apakah dalam Islam kita dilarang melakukan pemilahan atas diri kaum Muslimin? Apakah kita dilarang memberi nama pada Ummat Islam, di luar nama Muslim atau Muslimin? Saya membutuhkan jawaban jujur dari Salafiyin yang sering menuduh saya memecah-belah (tafriq) atau membuat pemilahan (taqsim) yang buruk. Jika Anda tidak bisa menjawab, Anda tidak layak mencela orang lain sesuka hati Anda, lalu Anda merendahkan kehormatannya.
   Sesungguhnya, memberi nama kepada Ummat Islam, di luar penamaan Muslim atau Muslimin, dengan nama yang baik dan mewakili sifat-sifat pihak yang disebut, bukan perkara baru. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri melakukan hal itu. Beliau menamai Shahabat-shahabatnya dengan Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kaum Muslim yang hijrah dari Makkah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah kaum Muslim Madinah yang membantu kaum Muhajirin. Bahkan nama Muhajirin dan Anshar itu diabadikan dalam Al QurÃÂn (Surat At Taubah, ayat 100).
   Jika kaum Muslimin saja boleh diberi nama-nama tertentu, asalkan nama itu baik dan mewakili sifat-sifat yang ada pada mereka, maka dalam konteks Salafiyah, aturannya tentu jauh lebih luwes lagi. Salafiyah itu bukan identitas yang bersumber dari dalil-dalil SyarÃÊ, tetapi hanyalah ijtihad sebagian ulama. Singkat kata, apa yang diklaim sebagian Salafi tentang ÅÔakral-nya? istilah Salafiyah, ia jelas SALAH!!! 
   
Kerancuan Buku DSDB
   Abu Umar Basyir: ?Sebenarnya ada beberapa hal yang rancu dalam buku tersebut. Namun penulis (Ustadz Abu Umar) tidak berniat mengupas dan menjabarkannya, karena itu bukan kepentingan dalam penulisan buku ini??
   Iya, memang demikianlah adanya. Karya manusia tidak ada yang suci. Ada saja kekurangan-kekurangan di dalamnya. Syukran jazakallah khair, Anda telah memberi masukan dalam hal ini. Mungkin, yang masih kurang, saya tidak diberitahu bagian-bagian mana yang dianggap rancu. Secara pribadi, jika suatu masukan itu benar dan layak, insya Allah akan diterima dengan hati terbuka. Kalaupun kadang saya tampak kesal, itu lebih karena kebiasaan sebagian Salafi yang asal bicara, tetapi tidak dipikir-pikir akibatnya. Betapa sering mereka menuduh jahil, pengikut hawa nafsu, pemecah-belah, rancu, dll. tetapi mereka belum memberi saya kesempatan menjelaskan.
   Seorang penulis berkata, bahwa dalam suatu terdapat kerancuan-kerancuan di dalamnya. Disana dia mengatakan rancu, tetapi tidak menjelaskan bagian mana yang rancu dan apa alasannya? Bahkan dia tidak berjanji akan membahas kerancuan itu di suatu kesempatan. Boleh jadi, buku itu kemudian dibaca oleh ribuan orang, kemudian para pembacanya terpengaruh dengan hasil penililaian dia (soal kerancuan itu). Ini contoh sederhana akhlak seorang Salafi yang katanya mengikuti Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum. Begitu mudah melontarkan celaan, tetapi tanpa melandasinya dengan alasan-alasan yang SyarÃÊ. Cara demikian bukan dakwah, apalagi manhaj ilmiah. Ini adalah metode fitnah, yaitu menyebarkan kerisauan di tengah-tengah Ummat.
   Padahal Kitabullah sudah berkali-kali menasehatkan, Å¢l fitnatu asyaddu minal qatli? (Fitnah itu lebih berat dari pembunuhan). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pernah menegur keras Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, hanya karena beliau memanjangkan bacaan Surat dalam shalat berjamaah. Beliau mengatakan, Å¢pakah engkau hendak memfitnah (menguji) manusia, wahai Muadz?? Hanya soal panjangnya bacaan Shalat sudah sedemkian besar tegurannya, apalagi untuk celaan yang disebarkan secara terbuka, tetapi ÅÅigantung? tanpa penjelasan apa-apa?       

Istilah Salafi Di Masyarakat
   Abu Umar Basyir: ?Namun disini penulis hanya memberi catatan bahwa istilah Salafi Yamani-Salafi Haraki, akan sangat mungkin digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab untuk semakin menyudutkan kalangan Salafiyin. Bila kedua istilah itu sempat memasyarakat, terutama di kalangan awam, akan lebih riskan lagi. Bisa saja muncul pertanyaan dari masyarakat awam, Á¢nda Salafi?? Áºa,? jawab kita. Á´alafi Yamani atau Salafi Haraki?? Akan butuh waktu panjang untuk menjelaskannya.?
   
Saya hampir-hampir sampai ke status ÁÎual? ketika hendak menanggapi perkara ini. Kepada muslim.or.id sudah dijelaskan, kepada Abu Salma juga, dan kesekian kalinya saya harus menjelaskan perkara ini. Mudah-mudahan kesabaran kita dalam perkara ini akan membuahkan hidayah dan pertolongan Allah TaÃÂla bagi kami, bagi Dakwah Islam, dan kaum Muslimin. Allahumma amin.
   Saya akan menjelaskan dengan perlahan dan tenang, mudah-mudahan penjelasan ini mencukupi. Dan ini adalah penjelasan terakhir tentang istilah Å´alafi Yamani? dan Å´alafi Haraki?. Selanjutnya, saya bertawakkal kepada Allah atas sikap orang-orang yang tidak mau mengerti alasan-alasan saudaranya.
   Latar-belakang penulisan buku DSDB memang karena adanya fenomena kekerasan dalam dakwah Ahlus Sunnah di Indonesia, yang ditunjukkan oleh sebagian kalangan Salafiyin. Dalam judul buku pun sangat jelas, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak: Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi. Melalui buku itu kita hendak meluruskan sikap-sikap keras mereka dengan mengacu kepada prinsip-prinsip Ahlus Sunnah. Adapun pemakaian istilah Å´alafi Yamani? dan Å´alafi Haraki? hanyalah sekedar wasilah (alat) untuk mencapai sasaran yang dituju. Ia bukan maksud hakiki, hanya wasilah.
   Dalam situasi demikian, saya ingin bertanya kepada Abu Umar Basyir dan Salafi-salafi lainnya: (1) Perlukah kita membahas perkara ini, lalu menyampaikan nasehat kepada sebagian orang yang bersikap keras kepada saudara-saudaranya? Jika Anda menganggap tidak perlu, maka saya katakan: Å«elas perlu!? Asas dari Dakwah Islam ialah bil hikmah wa mauÃÊzhatil hasanah wa mujadalah bil ihsan (Surat An Nahl: 125). Jika ada yang bersikap syadid (keras) dan tanfir (membuat lari manusia) dalam dakwah, jelas mereka harus diluruskan. Apalagi jika sikap keras itu telah menjurus ke perilaku zhalim kepada sesama Muslim. Perhatikanlah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sudah masyhur, ŵolonglah saudaramu yang zhalim atau yang dizhalimi!?
   (2) Jika kita perlu berbicara dalam perkara ini (sikap keras dalam dakwah), apakah semua Salafi bersikap syadid dan tanfir? Jika ada yang mengatakan źa!?, berarti dia tidak tahu permasalahan, dan hendaklah segera menyingkir dari arena. Tidak semua Salafi bersikap keras dalam dakwah. Di antara mereka ada yang ÁÂlim, Sunni, ikhlas, wara?, istiqamah, dan senantiasa menjaga Wihdatul Ummah.   
   (3) Jika sikap Salafi berbeda-beda, lantas bisakah mereka disatukan dalam satu istilah Salafi saja? Misalnya kita contohkan dalam kalimat-kalimat berikut: Ŭetika datang panggilan jihad di Ambon, Salafi membentuk pasukan jihad. Namun Salafi menolaknya, sebab menurut Syaikh Salafi, jihad di Ambon tidak wajib. Akhirnya Salafi terpecah, sebagian pergi berjihad, sebagian tidak. Salafi menuduh Salafi tidak peka dengan permasalahan Ummat di Ambon; Sementara Salafi menuduh Salafi telah menyembunyikan fatwa ulama besar Salafi dari Saudi. Perselisihan Salafi dengan Salafi masih terasa sampai saat ini, hingga Salafi menuduh Salafi sebagai Sururi, sedangkan Salafi mencela Salafi sebagai ahlul ahwa?. Sampai kapan Salafi akan terus berselisih dengan Salafi? Kita tunggu peran masyaikh Salafi di Timur Tengah untuk mendamaikan pertikaian antar Salafi.? Saya hanya meminta kejujuran Salafiyin, bisakah dibuat kalimat-kalimat demikian? Mudah-mudahan Anda tidak seperti yang pernah saya dengar dari humor sebagian orang, Å®ereka kurang ulul albab!?
   (4) Kemudian soal tanggapan masyarakat awam jika bertanya tentang Salafi. Harus diingat, mereka adalah awam, jadi kecil kemungkinan akan bertanya soal-soal yang rumit. Mereka tahu istilah Salafi saja, itu sudah lumayan. Adapun jika mereka mendesak ingin bicara, beri penjelasan sesuai pemahaman orang awam. Bagaiaman kalau mereka bertanya, Å¢nda Salafi yang mana?? Jawabnya sederhana saja, sebutkan kalimat yang Anda katakan semula, Å´alafi itu satu. Ia tidak dikotak-kotak!? Atau katakan saja, Å´aya Salafi murni, tidak pakai embel-embel apapun!? Insya Allah, penjelasan ini akan mengakhiri rasa penasaran mereka. (Lebih hebat lagi kalau Anda mau memberi penjelasan seperti pandangan saya terhadap istilah Salafi). Bagaimana kalau mereka tidak puas dengan jawaban itu? Jika demikian, berarti mereka bukan orang awam, tetapi berpura-pura awam. Terhadap orang seperti itu jelaskan sejelas-jelasnya, sesuai pendirian Anda dalam hal ini. Berdiskusi dengan orang-orang terpelajar, insya Allah tidak sia-sia.
   Bagaimana jika untuk menjelaskan itu butuh waktu panjang, sedangkan saya inginnya yang ringkas-ringkas saja? Jika demikian, berarti intinya bukan tentang sebuah nama, tetapi soal kesibukan. Ada sebagian orang yang mampu menulis sebuah buku dakwah hingga ratusan halaman, tentu baginya tidak sulit menyisihkan waktu setengah atau satu jam untuk menjelaskan kepada Ummat. Seorang dai tentu tidak merasa keluh-kesah dengan amanah menjelaskan kepada Ummat. Toh, mereka selama ini juga sudah sering bicara tentang istilah-istilah, seperti Ikhwani, Banawi, Tablighi, Sururi, Quthbi, Hizbi, dll. Kalau bicara istilah-istilah itu bisa, maka bicara soal Salafi pun seharusnya tidak ada masalah.
   Demikian pembahasan yang bisa disampaikan. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan, khususnya kepada Akhuna Ustadz Abu Umar Basyir hafizhahullah wa iyyana. Dan syukran jazakumullah khair atas semua perhatiannya. Walhamdulillah Rabbil ÁÂlamin. Wallahu aÃÍam bisshawab. 


Bersambung......(insyaallah)

=============================================================================
1 Dalam surat terbukanya kepada Al Madkhali, Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan, antara lain, Å´esungguhnya, buku ini (Adhwa Islamiyyah karya Al Madkhali ËÑen.) tidak boleh diterbitkan dan diedarkan, karena di dalamnya terdapat pelecehan yang amat berat dan pengaruh yang sangat besar  terhadap para pemuda Ummat ini untuk terjerumus ke dalam perbuatan mencela ulama, mendiskreditkan ulama, meremehkan kemampuan mereka, dan melalaikan segala keutamaan mereka.? (STSK, hal. 322, bagian catatan kaki no. 632).

 2.   Dalam kaidah fiqih dikatakan, Å¢l amru bi maqashidiha.? (Suatu perkara tergantung tujuannya).

 

 
 

Bandung Raya, akhir Januari 2007.
   Abu Abdurrahman

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/25_161_2007_02

Komentar
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)
Oleh azam ( 08 Agustus 2007 13:18:03 )
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)
Oleh abu fauzan ( 15 Maret 2008 22:20:23 )
Sy termasuk org yg prihatin dng kondisi umat Islam yg terutama mereka yg faham thd Islam yg shahih yg tiada lain dng pemahaman salaful ummah. Mreka saling mencela, padahal mereka mngklaim diri yang lebih mngerti tentang Islam. Jika melihat, membaca ataupun sekedar mendengar tentang peristiwa cela-mencela, tahdzir mentahdzir dsb, sy jadi semakin bingung, apalagi jika ditinjau dr hadits tentang risalah Islam yg kata rosul adalah untuk menyempurnakan akhlak. Astaghfirullohal'adziim
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)
Oleh abu zainab ( 14 Juli 2008 13:19:01 )
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2) oleh amru at 21 November 2008 14:37:50
niat keluar 4 bulan ke ipb insyaallah dalam waktu dekat ini
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2) oleh salafi_parah at 02 Maret 2009 00:36:09
gue keluar mah tiap hari boy ..


bicara akhlak ..., kayaknya kagak mempan ama salafi ... kotor mulut mereka ..
Re: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2) oleh abu zaid at 15 Mei 2009 20:02:24
ya.. akan tetapi jangan pakai kaidah yahudi, al ghoyah tubarrirul wasilah "tujuan menghalalkan segala cara".
Tulis Komentar Anda disini

Judul

Nama Anda

Website




Masukkan kode verifikasi