Peneliti Hadats dari Jakarta melecehkan Salafy & Ulamanya
Penulis: Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji
Ketika ditanya tentang LIPIA-Jakarta, Abdul Hakim Abdat menjawab:
LIPIA bagus, antum sudah pernah ke LIPIA belum? Saya 20 tahun di LIPIA, sejak berdirinya LIPIA sampai sekarang saya di situ. Saya tahu sampai sekecil-kecilnya! Bagus, banyak.
Banyak orang mengatakan bahwa ustadz-ustadz LIPIA berbau ikhwani?
Abdul Hakim Abdat : Tentu, di JamiÃÂh Islamiyah (Universitas Islam Madinah, KSA, red) di sana banyak juga yang ikhwani sebagiannya. Di JamiÃÂh, nggak kepalang tanggung, LIPIA, ini JamiÃÂh, di (maÃÉad, red) Syaikh Muqbil juga banyak, sekarang ini tidak ada yang mungkin, tapi asas LIPIA didirikan itu atas manhaj salaf. Saya kenal orang perorangnya, karena mengontraknya pertama kali gedung dengan paman saya. Sayalah orang pertama yang ada di LIPIA itu!
Dan orang-orang dahulu takut masyarakat Indonesia masuk ke LIPIA karena takut dituduh Wahabi. Dan telah masyhur LIPIA itu manhajnya Wahabi. Ini tahun 1980. Hah. Belum ada orang LIPIA itu di Raden Saleh. Dan dia nyewa gedung dengan paman saya. Jadi saya punya kebebasan. Dan saya juga sekolah orang-orang pertama di situ dengan masuk IÃÅad Lughawiyah.
Tapi sebagian gurunya tentu tidak ada yang selamat. Nggak bisa orang Saudi itu ngontrol secara ini. Ada sebagian gurunya yang ikhwani, tapi asas didirikannya LIPIA itu manhaj ahlussunnah didirikan Saudi. Manhajnya bagus! Dan sekarang mudirnya Doktor Ali itu manhajnya bagus, dan berkata kepada saya ketika ada kesepakatan antara saya dengan doktor Ali untuk mengeluarkan orang-orang yang manhajnya tidak bagus. Itu?.selentingan, antum belum pernah pergi ke sana. Antum tidak tahu LIPIA, saya 20 tahun! Laisal khabar kal muÃÂyyanah, apalagi beritanya dari orang-orang yang dhaÃÊf! Bentrok itu sanadnya! DhaÃÊfun jiddan! Ha..ha..Nggak benar!
Tidak terjadi itu ustadz? Maksudnya usaha pengeluaran?
Abdul Hakim Abdat : Anak-anak muridnya? Kalau gurunya tidak bisa semuanya, nggak bisa. Antum mau ngajar lughah di sana?! GantiÃÊn?! Nggak ada. Ŭaum salaf lughahnya lemah! Sayangnya, anak-anak salaf.? Sehingga doktor Ali pernah bilang sama saya:Ǻa Hakim, murid-murid antum ini jangan hanya manhajnya doang yang bagus, tapi pinter dong! Bisa mengalahkan mereka?, begitu. Harus cerdik, pinter.
Nah guru-gurunya sekarang boleh banyak, sekarang siapa saja bisa. Kalau antum, kalau antum mau ngajar di LIPIA juga bisa ËÌalau antum bagus manhaj salafnya, kemudian lughahnya cerdik antum bisa ngajar. Bisa ngajar. Sekarang mulai terbuka. Anak-anak yang masuk ke LIPIA itu yang bermacam-macam karena di situ ijinnya dengan pemerintah adalah lughah dahulu.
?.Dan dari lembaga ini keluar anak-anak murid yang ngerti bahasa Arab dan manhajnya bagus, tidak ada satupun pelajaran bahasa Arab yang terbaik di seluruh Indonesia ini selain di LIPIA yang saya tahu.
?..Ada yang bisa buat seperti LIPIA? Nggak ada! Kalau begitu kaidahnya, maka tidak boleh juga masuk ke JamiÃÂh Islamiyyah! Nggak ada satupun antum bisa masuki! Nah ini yang salah dari perjalanan manhaj salaf! Nggak boleh bersikap seperti itu! Itulah hidup! Itu mah hidup di dunia khayal, tutup mata tinggal di gunung! Nggak benar, antum harus hidup dengan kenyataan, nggak ada satupun juga bisa dimasuki. Aaaa..gitu. He?he?he..(tertawa)
Nggak ada, nggak ada sekarang, semua dicampuri dengan itu, hatta di majelis Syaikh Muqbil, Syaikh Utsaimin, Syaikh bin Bazz,?sikap Masyayikh itu. Memang kenyataannya seperti itu, Syaikh Rabi?. Jadi kenyataan seperti itu, apalagilah LIPIA, lembaga yang lebih kecil tentunya bisa. Dan orang-orang Saudi kesulitan mencari guru bahasa Arab yang mengajar. Di sini orang-orang manhaj salaf mau merobah!
Sekarang mau doctor Ali, saya jamin, hatta orang salafnya pinter, bisa dirubah langsung, antum? Antum bisa di Jakarta? Mau menjadi guru? Aa, bisa kagak? Nggak bisa kan?! Nggak bisa! Coba ustadz-ustadz yang mentahdzir LIPIA sini bisa dicatet jadi direkturlah, Insya Allah , ha.ha, hayo. Saya yang bakal bilang pada doktor Ali. Nggak ada, kurang, minim, aa? jadi jangan CUMA NGOMONG, harus tatbiqul ÁÂmal, begitu manhaj salaf. Ngomong - ÁÂmal, ngomong - amal, begitu.
Saya perjanjian dengan doktor Ali dan dipersilahkan rubah. Å©akim masukin murid-muridmu ke sini semuanya, itu peralihan?. Banyak anak-anak daftar semuanya, daftar, berubah, sama dengan JamiÃÂh Islamiyah, orang dari fikrah mana aja kan masuk, masuk, ada yang sufinya. Nah begitu, antum harus pergaulannya luas, jangan kuper!
Oleh abah ( 06 2007 16:08:01 )
Oleh Abdul Hakim Abdat As-Salafi ( 16 2007 21:29:29 )
Oleh kaisar_penis ( 21 Juni 2008 18:56:33 )
ane tantang ente mubahalah tlp ane di 02199282017 berani kaga ane kaga takut mati dosa ane dah banyak neh
Memang sih, kalo ditinjau dari sudut psikologi, kebencian itu salah satunya bisa bikin penilaian jadi ngga obyektif thdp yang dibenci, walaupun ada sedikit kebaikan pada yg dibenci itu. saya melakukan pengamatan ini pada waktu yang lama dan pada orang yang berbeda-beda. Semua menunjukkan ke arah itu.
Apa dengan kutipan diatas, pak Abu yakin kalo ust. Hakim melecehkan ulama? Dari sisi ilimiah, asumsi seperti itu kurang/tidak valid. Dari keilmuan secara umum saja, untuk membuktikan hipotesis/opini/paradigma, selalu diperlukan penelitian pada objek yg diteliti pada waktu yang lama, sampel yg banyak dan bisa di ulangi pada waktu yg lain (representative, reproducable dan valid). Jadi kalo cuma seperti disebutkan diatas aja faktanya, saya kira terlalu terburu2 mengambil kesimpulan.
Saya mencoba memberikan pendapat dari sudut ilmiah secara umum, tidak menilai objek yang diperbincangkan. karena saya melihat banyak sekali tulisan yang menghasilkan kesimpulan secara terburu-buru tanpa didahului oleh penilaian yang komprehensif, akhirnya tulisan dan kesimpulan yang dibawakan jadi kering, hampa dan rapuh.
Jadi, siapa saja boleh dikritik dan di nilai, tapi atas dasar penilaian yang objektif, bukan atas dasar sentimen pada objek yang diteliti. mudah2an hasilnya lebih optimal dan berbobot. Ngga kelihatan membabi-buta.
sibukkan kalian dg ilmu dan amal!!!
ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan ( biara salafy wahdah islamiyyah), ustad2 salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.
ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid hidyatusalihin poltangan pasarminggu ( gereja markas geng salafy sururi), ustad2nya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij anjing2 neraka yang menggunakan sistem marhala.
ketika saya hadir di masjid fatahillah ( salah satu sinagog salafy yamani), rabi-rabi salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.
Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat ( salafy turotsi)itu ustad otodidak yang pakar hadas ( najis) bukan pakar hadis
Muhamad Umar As Seweed ( salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as seweed bikin buku dengan judul " pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib" yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh
Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi.oragnisasi adalah hizbi.
salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy2 primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.
pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy. dan....ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.
ironis sekali, salafy yang mengaku2 anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.
ironis sekali, rabi-rabi salafy yang konon belajar jauh2 dan lama2 ke timur tengah, tapi ditataran basic yaitu akhlak, sangat bejat dan arogan.
mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku2 tebal.
yah...keledai ditengah tumpukan buku2 tebal tetap saja keledai.
jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf.
jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.
jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.
sudah terlalu lama firqoh salafy dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat islam, melukai ahlu sunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya2nya yang egomaniak. mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah azawajalla.
gara2 cara dan tabiat orang salafylah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah
semoga Allah memberikan keluasan pada ust Hakim Abdat untuk menjalankan dakwah salaf dan melindungi dari ustad gadungan.
udahlah sesama ahli bid'ah jangan membid'ahkan
kepada saudaraku salafiyyun, mari kita membangun cinta dan kasih sayang diatas sunnah, saling menolong, menasehati dengan cara yang ma'ruf, seburuk-buruknya seorang salafy, jauh lebih baik daripada seorang mubtadi', hizbiy, atau ahlul ahwa'. tidak sepatutnya celaan, cacian, makian dan kata-kata kasar ditujukan kepada mereka. berharaplah bahwa siapapun saudara kita salafiyyun yang tergelincir kedalam kekeliruan, lebih mudah untuk ruju' kepada kebenaran dibanding selainnya. ikhlashkan doa kepada Allah SWT semoga suatu saat mereka beroleh kebaikan, hidayah dan kemuliaan.
Ana nesehatkan kepada salafiyyun di Indonesia untuk lebih mendalami ilmu Syar'i dan menahan lisan untuk menghujat sesama muslim karena itu suatu kezhaliman.
diemin aja...
ntar juga pada berantem sendiri
kalian bilang salafy saling hujat, sekarang kalian sendiri terperosok di dalamnya saling hujat saling mencela, saling menyalahkan,
kalian semua muslim kalian semua orang Islam kalian semua umatnya nabi Muhammad, apa kalian ga malu kepada Rasulullah yang selama 23tahun menyiarkan Islam dari mulai istri sodara hingga menyebar ke seluruh jazirah arab,dan apakah kalian ga malu kepada para sahabat yang menggunakan lisan dan pedang mereka untuk menegakkan Islam d seantero jagad bumi. kapan Islam akan maju kapan Islam akan berkembang, kapan Islam akan tegak d muka bumi kalau orang2nya seperti kalian semua. salinglah intropeksi diri, tdk ada manusia yang sempurna di muka bumi. kalian pasti ada benarnya tapi ingat kalian juga pasti mempunyai salah.tolonglah wahai sodara ku kita berpegangan tangan, kita saling dukung dakwah islam ini.
Saya tantang di blog ini ente buat dakwah...apa yang ente tau tentang salafy, test kalo mo kritik ente kritik aja deh takhrij hadistnya ustadz hakim, itu kalo emang ente punya ilmu agama yang mumpuni...banteran ente foto copy lagi.
baiklah, sekarang salafy tidak berorganisasi, tapi nyatanya dan faktanya, mereka malah bikin keributan dengan sesama umat islam, parahnya mereka berpecah belah dan saling memfitnah dengans sesama golongan mereka sendiri.yaitu sesama salafy. ironis kan? bukankah ini semacam karma dari Allah SWT?sedangkan mereka yang salafy tuding sebagai hizbi dan pemecah belah umat islam, fakta dan nyatanya mereka rukun2 saja tuh dan hati mereka tersatukan dengan kitabullah dan sunnah rasul.enyahlah salafy wahai antek dajjal, enyahlah salafy alias hadadi, enyahlah wahai orang2 picik
rapatkan barisan amalkan alqur'an dan sunah,..muliakan sesama umat islam,..
http://www.youtube.com/results?search_query=wahabi+salafi&search_type=&aq=f
Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini tidaklah seratus persen benar.
Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di dalam pandangan masyarakat.
Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan (suka ngotot dan membantah).
Oleh sebab itulah pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan sebuah fatwa salah seorang Imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah pada masa kini yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al `Utsaimin rahimahullah sebagai pelajaran dan koreksi bagi kita semua. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al `Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, "Apakah karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An Najiyah)? Dan apakah adanya kekurangan (yang ada pada diri seseorang) dalam salah satu di antara karakter ini lantas mengeluarkan orang tersebut dari Golongan Yang Selamat?"
Jawaban:
Beliau rahimahullah menjawab, "Karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat adalah berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi pekerti), dan mu'amalah (interaksi sesama manusia). Dalam keempat perkara inilah anda dapatkan Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka:
Adapun dalam hal akidah: Anda bisa jumpai mereka senantiasa berpegang teguh dengan keterangan dalil Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu `alaihi wa sallam yaitu meyakini tauhid yang murni dalam hal Uluhiyah Allah, Rububiyah-Nya serta Nama-Nama dan Sifat-Sifat- Nya.
Adapun dalam hal ibadah: Anda jumpai golongan ini tampak istimewa karena sikap mereka yang begitu berpegang teguh dan berusaha keras menerapkan ajaran-ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam menunaikan ibadah, yang meliputi jenis-jenisnya, cara-caranya, ukuran-ukurannya, waktu-waktunya dan sebab-sebabnya.
Sehingga anda tidak akan menjumpai adanya perbuatan menciptakan kebid'ahan dalam agama Allah di antara mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan menyusupkan suatu bentuk ibadah yang tidak diijinkan oleh Allah.
Sedangkan dalam hal akhlak: Anda pun bisa menjumpai ciri mereka juga seperti itu. Mereka tampil istimewa dibandingkan selain mereka dengan akhlak yang mulia, seperti contohnya: mencintai kebaikan bagi umat Islam, sikap lapang dada, bermuka ramah, berbicara baik dan pemurah, pemberani dan sifat-sifat lain yang termasuk bagian dari kemuliaan akhlak dan keluhurannya.
Dan dalam hal mu'amalah: Anda bisa jumpai mereka menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sifat jujur dan suka menerangkan kebenaran.
Dua sifat inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam di dalam sabdanya, "Penjual dan pembeli mempunyai hak pilih selama keduanya belum berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan menerangkan apa adanya niscaya akan diberkahi jual beli mereka. Dan apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barangnya) maka akan dicabut barakah jual beli mereka berdua." (HR. Bukhari dan Muslim)
Adanya kekurangan pada sebagian karakter ini tidak lantas mengeluarkan individu tersebut dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat, namun setiap tingkatan orang akan mendapatkan balasan sesuai amal yang mereka perbuat. Sedangkan kekurangan dalam sisi tauhid terkadang bisa mengeluarkan dirinya dari Golongan Yang Selamat, seperti contohnya hilangnya keikhlasan. Demikian pula dalam masalah bid'ah, terkadang dengan sebab bid'ah-bid'ah yang diperbuatnya membuatnya keluar dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat.
Adapun dalam masalah akhlak dan mu'amalah maka tidaklah seseorang dikeluarkan dari Golongan Yang Selamat ini semata-mata karena kekurangan dirinya dalam dua masalah ini, meskipun hal itu menyebabkan kedudukannya menjadi turun.
Kita perlu untuk memperinci permasalahan akhlak karena salah satu faidah dari akhlak ialah terwujudnya kesatuan kata dan bersatu padu di atas kebenaran yang diperintahkan Allah ta'ala kepada kita di dalam firman-Nya (yang artinya), "Allah mensyari'atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya." (QS. Asy Syura: 13).
Dan Allah memberitakan bahwasanya Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam lepas tanggung jawab dari perbuatan orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi bergolong-golongan.
Allah `azza wa jalla berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka maka tidak ada tanggung jawabmu atas mereka." (QS. Al An'am: 159).
Sehingga kesatuan kata dan keterikatan hati merupakan salah satu karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat -Ahlus Sunnah wal Jama'ah- Oleh sebab itu apabila muncul perselisihan di antara mereka yang bersumber dari ijtihad dalam berbagai perkara ijtihadiyah maka hal itu tidaklah membangkitkan rasa dengki, permusuhan ataupun kebencian di antara mereka.
Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya mereka adalah bersaudara meskipun terjadi perselisihan ini di antara mereka. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mau shalat di belakang imam yang menurutnya dalam status tidak wudhu sementara si imam berpendapat bahwa dirinya masih punya status wudhu.
Atau contoh lainnya adalah orang yang tetap mau shalat bermakmum kepada imam yang baru saja memakan daging onta. Si imam berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu. Sedangkan si makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudhu. Namun dia tetap berkeyakinan bahwa shalat bermakmum kepada imam tersebut adalah sah.
Walaupun seandainya jika dia sendiri yang shalat maka dia menilai shalatnya dalam keadaan seperti itu tidak sah. Ini semua bisa terwujud karena mereka memandang bahwa perselisihan yang bersumber dari ijtihad dalam persoalan yang diijinkan untuk ijtihad pada hakikatnya bukanlah perselisihan. Alasannya adalah karena masing-masing individu dari dua orang yang berbeda pendapat ini sudah berusaha mengikuti dalil yang harus diikuti olehnya dan dia tidak boleh untuk meninggalkannya.
Oleh sebab itu, apabila mereka melihat saudaranya berbeda pendapat dengannya dalam suatu perbuatan karena mengikuti tuntutan dalil maka sebenarnya saudaranya itu telah sepakat dengan mereka, karena mereka mengajak untuk mengikuti dalil dimanapun adanya. Sehingga apabila dengan menyelisihi mereka itu menjadikan dirinya sesuai dengan dalil yang ada (dalam pandangannya) , maka pada hakikatnya dia telah bersepakat dengan mereka, karena dia sudah meniti jalan yang mereka serukan dan tunjukkan yaitu keharusan untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.
Dan terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah seperti ini di kalangan para sahabat tidaklah tersembunyi di kalangan banyak ulama, bahkan sudah ada juga di jaman Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Dan ternyata tidak ada seorangpun di antara mereka yang bersikap keras kepada yang lainnya. Ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian.
Nabi shallallahu `alaihi wa sallam pun berpesan kepada para sahabatnya, "Janganlah kalian shalat `Ashar kecuali di Bani Quraizhah." (HR. Bukhari dan Muslim), maka mereka berangkat dari Madinah menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat `Ashar sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat `Ashar sampai tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda, "Janganlah kalian shalat `Ashar kecuali di Bani Quraizhah."
Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul shallallahu `alaihi wa sallam ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua kelompok tersebut.
Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.
Oleh sebab itulah saya berpandangan bahwa menjadi kewajiban kaum muslimin yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah supaya menjadi umat yang bersatu padu dan janganlah terjadi tahazzub (tindakan bergolong-golongan) . Yang ini membela suatu kelompok, sedangkan yang lain membela kelompok lainnya, dan pihak ketiga membela kelompok ketiga dan seterusnya, yang mengakibatkan mereka saling bergontok-gontokan dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, saling memusuhi dan membenci gara-gara perselisihan dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad di dalamnya.
Dan saya tidak perlu untuk menyebutkan tiap-tiap kelompok itu secara detail, akan tetapi orang yang berakal pasti bisa memahami dan memetik kejelasan perkaranya.
Saya juga berpandangan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama'ah wajib untuk bersatu, bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, red) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji hanya bagi Allah.
Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah, red). Dan tidaklah perlu diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas satu kalimat." (Fatawa Arkanul Islam, Daruts Tsuraya, hal. 22-26).
Demikianlah fatwa seorang alim yang sudah sama-sama kita akui kedalaman ilmu dan ketakwaannya. Duhai, alangkah jauhnya sifat-sifat kita dengan sifat-sifat elok yang beliau gambarkan… Kalau saja masing-masing dari kita bisa menerapkan dengan baik isi nasihat beliau di atas maka niscaya tidak akan terjadi baku hantam di antara sesama Ahlus Sunnah.
Sebagaimana para sahabat radhiyallahu ta'ala `anhum bisa bersikap arif tatkala menyaksikan saudaranya menyelisihi dirinya demi mengikuti tuntutan dalil yang sampai kepada mereka. Selain itu umat Islam di negeri ini tentu akan lebih merasa gembira dan tenang dalam menerima dakwah, karena mereka bisa menyaksikan sosok-sosok da'i yang pandai menyikapi keadaan, tidak grusah-grusuh dan terlalu cepat mengambil tindakan tanpa kenal perhitungan.
Apa salahnya jika kebenaran itu berada di pihak lain di luar kelompok kita? Apa salahnya jika yang menyampaikan kebenaran itu bukan ustadz kita? Bukankah hikmah itu adalah barangnya orang beriman yang hilang? Apakah semata-mata karena kebenaran itu datang dari selain kelompok kita lantas kebenaran itu boleh kita tolak. Lalu apakah bedanya kita dengan orang-orang yang taklid buta dan mengagung-agungkan kyai-kyainya? Renungkanlah saudaraku… Terkadang musuh yang cerdas itu jauh lebih bermanfaat bagi kita daripada teman-teman yang bungkam dari ketergelinciran kita.
Bagaimana bisa kita menyerukan umat Islam untuk kembali bersatu di atas pangkuan manhaj Salaf sementara kita sendiri justru memporakporandakan persatuan itu dengan menerkam saudara-saudara kita sesama Ahlus Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat dan membantah Ahlul bida' wal ahwa'? Sedangkan para ulama mewasiatkan kepada kita untuk memperbaiki akhlak demi terjalinnya persatuan dan keterkaitan hati.
Adakah yang mau mengambil pelajaran? Hamba memohon kepada-Mu ya Allah, bukakanlah hati-hati kami untuk menerima kebenaran. Engkau lah Yang Maha tahu kekurangan dan dosa-dosa kami. Kami mengakuinya dan kami mohon ampunan kepada-Mu, ya Rabbi.
Kembalikanlah persatuan dakwah yang mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do'a. Semoga shalawat dan keselamatan senantiasa terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka kaum Salafiyin yang ada di sepanjang masa hingga tegaknya hari kiamat. Dan akhirnya segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.
***
Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi